Bandara Soekarno-Hatta Sebuah Realita Pahit
Posted by ideafirst on April 6, 2008
Transportasi dengan pesawat terbang merupakan salah satu pilihan yang sangat baik untuk melakukan perjalanan jauh, sehingga banyak orang yang menggunakan penerbangan udara untuk melakukan perjalanan antar propinsi atau antar negara yang jaraknya bisa mencapai ribuan kilometer. Mengingat semakin banyaknya pengguna penerbangan udara maka pembangunan suatu bandar udara (bandara) terus meningkat dari waktu ke waktu. Bandara adalah tempat dimana calon penumpang berangkat dan pergi dengan pesawat udara. Biasanya bandara dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Sebagian fasilitas untuk keamanan penerbangan dan sebagian lainnya adalah untuk kenyamanan. Bandara yang digunakan untuk penerbangan dalam negeri kita sebut sebagai bandara domestik, sedangkan bandara untuk penerbangan luar negeri disebut bandara international. Selain itu ada pula yang disebut bandara perintis, yaitu bandara untuk penerbangan rintisan dalam rangka membuka jalur baru suatu penerbangan.
Dalam suatu bandara International, penerbangan yang datang dan pergi di bandara ini adalah penerbangan dari berbagai negara, dan penumpang yang datang dan pergi ke bandara tersebut juga adalah penumpang yang datang dan pergi dari berbagai negara. Bagi para penumpang penerbangan luar negeri, bandara adalah tempat pertama mereka masuk ke dalam suatu negara, dan bagi mereka itu bandara adalah pintu gerbang masuk ke negara yang dikunjungi. Dengan demikian kesan pertama akan suatu negara banyak dipengaruhi oleh kesan yang diperolehnya ketika pertama kali menjejakkan kakinya di bandara. Di sisi lain, bagi suatu negara, bandara internatioanl adalah sarana terbaik untuk memberi citra positif bagi negaranya. Penyambutan yang baik, dengan keramatamahan serta fasilitas yang baik dapat diberikan di bandara untuk mendapatkan rasa kesenangan dan kepuasan dari tamu-tamu negara, baik tamu di bidang pemerintahan, bisnis, wisatawan maupun lainnya.
Mengingat bandara international sedemikian pentingnya untuk pencitraan, sekaligus untuk menunjukkan bahwa suatu negara sangat antusias menyambut tamu-tamu asing yang datang, maka fasilitas bandara di sajikan sedemikian rupa sehigga para tamu akan merasa terhormat dan mendapat privelege. Beberapa fasilitas dasar yang lajimnya disediakan di sebuah bandara international adalah sistem informasi yang baik, ruang tunggu yang nyaman, internet/telekomunikasi, keamanan, pusat pembelanjaan, keramahan, bahkan kamar mandi dan toilet yang bersih dan nyaman. Selain itu, sistim transportasi yang baik disediakan dengan sangat baik. Jalan menuju bandara yang lebar dengan kualitas jalan No. 1, shuttle bus yang mengangkut penumpang diseputaran terminal, taksi, monorel, dan Mass Rafid Transprotation (MRT) yang pulang-pergi bandara secara tepat waktu. Semua kelengkapan di bandara tersebut sepertinya sudah menjadi sesuatu yang mesti ada di suatu bandara international tanpa melihat berbagai kondisi yang ada di negara tersebut, karena hal itu memang bagian dari upaya pencitraan positif dari suatu negara.
Kalau kita lihat negara tetangga, di bandara Changi International Singapore misalnya kita akan menemukan suatu bandara yang sangat tertata baik. Hampir semua fasilitas yang disebutkan di atas nampak dikelola dengan teramat baik. Bandara Internasional Changi Singapura memenangkan penghargaan Airport of the Year 2006 oleh Skytrax, hal ini karena perawatannya yang baik atas bandara tersebut. Bagi seorang pendatang yang baru pertama kali ke Singapore, rasanya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan apa yang diperlukannya di Changi International. Begitu kita keluar dari pesawat kita memasuki area gedung bandara yang bersih dan petunjuk-petunjuk arah yang jelas, kemudian, sistim pemeriksaan keimigrasian yang modern dengan petugas yang sigap, jaringan telepon umum dan internet disediakan didalam bandara dengan cuma-cuma, toilet yang bersih dan sebagainya. Begitu keluar dari gedung bandara sudah tersedia berbagai pilihan alat transportasi yang juga amat baik serta beroperasi secara tepat waktu. Di Bandara International Kuala Lumpur (Kuala Lumpur International Airport) Malaysia, juga ditemukan hal yang hampir serupa. Bandara udara Baharuddin Malaysia merupakan salah satu bandara terbaik di dunia. Bandara Internasional KLIA adalah bandara kedua di dunia yang dilengkapi dengan cerobong difusi bahan-bahan peledak setelah Bandara Internasional Munich. Fasilitas yang serba modern yang dioperasikan oleh petugas yang sigap dan amat bertangggungjawab memberikan kenyamanan kepada para tamu yang datang dan pergi dari bandara tersebut. Memberi kesan bahwa negara tersebut memang sangat menghormati para tamunya yang datang dari manca negara. Sehingga begitu kita pulang meninggalkan negeri tersebut, tersimpan dalam hati bahwa Malaysia adalah negara yang sangat nyaman untuk dikunjungi atau bahkan ditinggali.
Bagaimana dengan Bandara International kebanggaan bangsa Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta? Adakah semua fasilitas yang baik itu di bandara kita? Bisakah bandara international terbesar di Indonesia ini mampu memberi kesan yang mendalam bagi para tamu-tamu negara kita. Sehingga mereka menemukan sebuah pintu gerbang negara yang memberi citra yang baik tentang negara besar dan kaya dengan sumber daya alam, serta keramahtamahan penduduknya.
Bandara Soekarno-Hatta mulai beroperasi pada tahun 1985. Bandara ini merupakan pengganti bandara international sebelumnya, yaitu Bandara Kemayoran dan Bandara Halim Perdanakusuma yang pada waktu itu dipandang sudah tidak memenuhi syarat suatu bandara yang baik. Bandara yang letaknya 20 Km dari Jakarta berada di wilayah Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten ini memiliki luas 18 KM2, dengan fasilitas 2 landasam pacu masing 2.660 meter, memiliki 2 terminal masing-masing terminal 1 dan 2. Untuk penerbangan luar negeri digunakan terminal 2. Pembangunan bandara di mulai pada tahun 1975 dengan arsitek seorang berkebangsaan Perancis bernama Paul Andreu yang juga merupakan arsitek perancang Bandara Chales De Gaulle di Perancis. Sedangkan yang mengerjakan pembangunannya meliputi kontraktoir Kanada, Perancis dan mitra kontraktor Indonesia. Bersamaan dengan pembangunan bandara dibangun pula jalan-jalan menuju bandara. Jalan Utama menuju bandara saat ini adalah merupakan jalan tol yang dibangun melintasi rawa-rawa yang dilakukan pengurugan. Sebagai suatu bandara international, didalam bandara ini dibangun berbagai fasilitas international, seperti fasilitas keiimigrasian, ruang tunggu kedatangan dan keberangkatan penerbangan internatioanl, sistim informasi penerbangan luar negeri, dan sebagainya.
Tentu saja kita yakini pada awal pengoperasiannya, bandara Soekarno-Hatta menjadi kebanggaan kita bangsa Indonesia. Namun setelah 40 tahun berlalu marilah kita liat apa yang ada di bandara ini. Kita mulai dari jalan menuju bandara yang sangat mengecewakan kita semua. Masih lekat dalam ingatan, beberapa bulan lalu ketika hujan lebat beberapa hari mengguyur Jakarta dan sekitarnya, tiba-tiba jalan utama menuju bandara terputus karena air menggenangi jalan hingga kedalaman yang tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan. Calon penumpang pengguna penerbangan terperangkap dalam kemacetan lalu lintas yang luar biasa. Beberapa diantara pengemudi mencoba mencari jalur alternatif ke bandara, namun juga menjumpai genangan air yang hampir sama di setiap jalur alternatif serta kemacetan yang sama pula. Jangan ditanya berapa lama perjalanan menuju bandara dari Jakarta, karena waktu perjalanan menjadi sangat tidak realistis. Dikabarkan ada sekelompok penumpang dari Bekasi yang berangkat dari rumah pukul 1 diri hari dengan tujuan penerbangan ke Bali dan baru tiba ke bandara pukul 8 pagi, sehingga ia harus gagal terbang karena terlambat 5 menit dari jadwal yang sudah diundur-undur. Sebagai akibat dari putusnya jalan penghubung bandara, pada waktu itu bandara dijejali oleh ribuan penumpang yang juga terperangkap tidak bisa beranjak dari bandara. Mereka harus duduk-duduk di lantai ruang tunggu sampai tiduran dengan alas seadanya. Banyak diantara mereka terpaksa menginap di bandara dengan perbekalan seadanya. Diantara mereka adalah tamu-tamu asing, para wisatawan atau pebisnis. Tersiar kabar bahwa persediaan makanan para pedagang di bandara sempat habis, sehingga penumpang yang berada di bandara waktu itu harus menahan lapar ditengah dinginnya hujan yang mengguyur di sekitar bandara.
Begitulah bandara ketika musim penghujan, lalu bagaimana bandara pada hari-hari biasa? Bandara Soekarno-Hatta ini boleh dibilang minim fasilitas. Lihat saja information desk di bandara, sulit sekali kita mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari information desk ini. Petugas sering tidak dapat memberikan informasi secara akurat. Tidak ada kesan dari peugas tersebut ingin membantu dengan sebaik-baiknya sehingga dapat menyenangkan para pencari informasi penerbangan. Pernah suatu ketika seorang penjemput menanyakan mengapa pesawat yang ditunggunya belum mendarat. Dengan sikap acuh tak acuh petugas mengutarakan ketidaktahuannya.
Di pintu pengecekan imigrasi untuk kedatangan penumpang luar negeri, para penumpang yang akan menunjukkan surat-surat keimigrasian dibiarkan tidak tertib saling serobot. Petugas imigrasi kurang sigap melayani mereka. Bahkan suatu pengalaman yang dialami penulis yang ketika itu baru saja pulang dari luar negeri. Pada pukul 11 malam mendarat dan langsung menuju pintu pemeriksaan imigrasi bersama ratusan penumpang lainnya dari berbagai kewarganegaraan. Setibanya di pintu imigrasi ternyata tidak ada satupun petugas imigrasi yang sudah siap melakukan tugasnya. Para petugas rupanya sedang istirahnat sehingga harus dipanggil lebih dahulu sebelum akhirnya melayani penumpang yang sudah berbaris setelah lelah menempuh perjalanan jauh.
Untuk fasilitas komunikasi, jarang atau mungkin tidak dijumpai fasilitas internet di dalam bandara. Apalagi internet yang disediakan secara cuma-cuma untuk kebutuhan pengguna bandara international. Padahal di era komunikasi ini, jaringan internet amatlah diperlukan dan sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup para pelancong dari mancanegara. Untuk komunikasi memang tersedia beberapa fasilitas telepon umum, walaupun sering dijumpai beberapa fasilitas ini rusak dan dibiarkan lama tidak dapat digunakan.
Fasilitas lain yang juga menyedihkan adalah toilet. Ruang kecil ini sepertinya masalah kecil, tapi coba lihat toilet di bandara. Sering kita menemui toilet-toilet itu kotor dan berbau, sehingga rasa jijik akan menghampiri orang yang akan menggunakannya. Terkadang sampah menyumbat saluran air pembuangan di toilet sehingga menimbulkan banjir di toilet. Adalah amat tidak sebanding jika toilet di Bandara Soekarno-Hatta dengan di bandara Changi International Sigapore atau Bandara Badarudin di Malaysia. Bahkan, untuk ukuran orang-orang yang sangat perduli kesehatan, toilet di bandara international Soekarno-Hatta tidak lebih baik dari toilet rumahan.
Keluar dari bandara, kita memasuki areal parkir yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari ruang tunggu kedatangan atau keberangkatan penumpang, yaitu terletak percis di hadapan ruang-ruang tunggu tersebut. Ketika penumpang yang baru datang berjalan sambil mendorong trolly membawa bagasi, maka sekelompok orang akan datang menghampiri dan terus mendekat hingga penumpang tadi tiba di kendaraan di parkiran. Tiba-tiba orang yang tadi mengikuti tersebut serempak mencoba membantu untuk memindahkan bagasi ke kendaraan penumpang. Tidak perduli penumpang tersebut perlu bantuan atau tidak, orang-orang tersebut akan mencoba memaksa untuk menawarkan jasanya, yang ujung-unjungnya memaksa meminta imbalan jasa berupa uang. Pernah seorang penumpang menolak bantuan tersebut, dan yang terjadi ia malah mendarat teror yang amat tidak mengenakkan dari orang-orang yang memaksa membantunya. Di areal parkir ini konon katanya sudah sering kali ditertibkan, tapi entah bagaimana ternyata pengelola bandara tidak pernah mampu membuat areal parkir menjadi tempat yang tertib dan aman bagi para pengguna bandara.
Kembali ke alat transportasi ke dan dari bandara, walaupun sudah ada beberapa bus bandara (airport bus) namun karena jumlahnya masih terbatas, dan terminal-terminalnya baru di beberapa lokasi di Jakarta, serta karena sering terjadi kemacetan lalu lintas di jakarta maka ketepatan waktu mencapai bandara mengandung ketidakpastian yang besar. MRT atau monorel memang masih jauh dari tersedia, karena Pemda DKI saja belum bisa membangun fasilitas transportasi modern tersebut.
Ikhwal bandara Soekarno-Hatta yang minim fasilitas memang sudah menjadi perbincangan banyak orang, baik orang Indonesia sendiri maupun para tamu asing, baik itu wisatawan, pebisnis, maupun tamu pemerintah yang pernah mencicipi penderitaan di bandara kita. Namun demikian, hingga saat ini bandara tersebut masih seperti itu, bahkan transportasi ke bandara semakin sulit, terutama ketika musim penghujan tiba, dan pelayanan di bandara yang buruk.
Dengan segala realita pahit tentang Bandara Soekarno-Hatta kita tetap berharap agar bandara Soekarno- Hatta cepat berubah. Sebagai bandara International, sebagai pintu gerbang negara, sebagai salah satu pemberi kesan akan citra bangsa dan negara, maka bandara Soekarno-Hatta haruslah dikelola dan diperbaiki dengan sebaik mungkin. Apalagi kalau bandara ini telah menyandang nama Soekarno-Hatta. Sebuah nama besar dari bapak bangsa, yang kemasyhuran dan kepemimpinannya diakui bukan hanya oleh bangsa Indonesia sendiri, tetapi juga oleh bangsa-bangsa lain di dunia , maka sudah seharusnyalah bandara Soekarno-Hatta juga masyhur dengan segala kebaikannya dan keistimewaannya. Semoga!